Faktor Penyebab Keguguran Pada Wanita Hamil

Faktor Penyebab Keguguran Pada Wanita Hamil – Resiko terjadinya keguguran ketika mengandung bisa di alami oleh semua perempuan. Untuk menghindari supaya kandungan tetap terjaga kesehatannya dan tidak mengalami keguguran, beberapa faktor dan penyebabnya perlu wanita ketahui. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya kelainan pada kromoson atau genetik dari janin.

Seperti yang di katakan oleh dr Gde Suardana SpOG dari RSAB Harapan kita bahwa “Penyebabnya sama dengan faktor penyebab flek. Ada kelainan kromosom atau genetika dari janinnya sendiri,” demikian seperti yang di informasikan oleh detik.com

Faktor Penyebab Keguguran

Karena terdapat kelainan kromosom pada bayi, lanjut dr Gde, maka tubuh ibu yang sedang mengandung menganggap bayi sebagai benda asing. Sehingga, tubuh ibu akan berusaha mengeluarkan si janin sebagai salah satu mekanisme membuat proteksi. Penyebab keguguran pada wanita hamil berikutnya juga bisa disebabkan karena kekurangan hormon progesteron.

Selain dua hal tersebut di atas, faktor dan penyebab keguguran juga bisa disebabkan karena adanya faktor-faktor lain seperti ada infeksi pada ibu yang menyebabkan janin dalam kandungan tidak berkembang. Infeksi penyebab keguguran tersebut bisa karena bakteri, virus, ada juga karena faktor nutrisi, makanan, dan bisa disebabkan oleh adanya penyakit-penyakit lain.

Pada dasarnya keguguran yang di alami oleh perempuan adalah berhentinya kehamilan. Ada abortus imminens yaitu ancaman berhenti kehamilan, sedangkan abortus incomplete yaitu berhentinya kehamilan dan keluarnya produk hamil seperti plasenta, ketuban, atau janin. Lalu, gejala apa sajakah  yang muncul ketika ibu hamil mengalami keguguran?

Gejala yang muncul adalah terjadinya flek atau perdarahan. Namun adakalanya tidak selalu muncul gejala. Ada perempuan yang mengalami keguguran tetapi tidak mengeluh. Tanda-tanda dan gejala yang lain hanya bisa dilihat melalui USG. Misalnya kantong kehamilan ada namuni isinya tidak ada. Itu yang disebut dengan blighted ovum.

Bagi ibu yang sudah pernah mengalami keguguran menurut dr Gde belum tentu akan lebih mudah mengalami keguguran berulang. Jika penyebabnya menetap, maka bisa berulang, sebagai contoh jika ada kelainan kromosom yang diturunkan dari ayah atau ibunya. Jadi, setiap ada kehamilan akan ada kecenderungan bayinya mengalami keguguran lagi. Sebaliknya, jika penyebabnya tidak menetap maka bisa tidak berhubungan dengan kehamilan berikutnya. Penyebab yang tidak menetap misalnya saja kekurangan progesterone kemudian anemia yang jika tidak diobati infeksi atau nutrisinya maka keguguran bisa terulang lagi.

Untuk risiko keguguran berulang pada kasus aborsi, dr Gde mengTakan tergantung dari indikasi aborsinya, kemudian di mana dan bagaimana. Jika legal dilakukan di rumah sakit, dilakukan oleh dokter atas indikasi medis yang tepat dan alat-alatnya steril, maka tidak ada pengaruhnya terhadap kehamilan selanjutnya. Berbeda dengan kasus aborsi ilegal menggunakan alat-alat yang tidak steril atau caranya tidak benar, serta menggunakan obat-obat yang dosisnya tidak tepat.

“Itu semua mempunyai kecenderungan untuk mengalami komplikasi perdarahan, infeksi, bahkan kehilangan nyawa. Bagi orang-orang yang melakukan aborsi illegal sering terjadi komplikasi, infeksi yang menyebabkan rahimnya menempel, mengalami perdarahan yang luas, bahkan kesulitan hamil selanjutnya,” tegas dr Gde.

Guna menghindari risiko keguguran, salah satu cara yang bisa dilakukan para calin orang tua yakni sama dengan cara pencegahan flek. “Harus rutin memeriksa ke dokter kandungan, supaya mengetahui ada atau tidaknya faktor-faktor tersebut,” pungkas dr Gde. ( detik )

CaraBaruku.Com © 2015 . counter